22 Agustus 2026
39
Kunjungi Kebun Kita dan Matavhati, Sekda Samarinda Dorong Penguatan Tamasya untuk Pengasuhan Anak yang Aman dan Kondusif
SAMARINDA.KOMINFONEWS – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus memperkuat perhatian terhadap pengasuhan dan tumbuh kembang anak usia dini. Melalui program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak), pemerintah mendorong terciptanya lingkungan pengasuhan yang aman, nyaman dan mendukung kebutuhan anak, sekaligus membantu orang tua yang memiliki aktivitas di luar rumah.
Komitmen tersebut salah satunya terlihat melalui kunjungan Pemkot Samarinda yang dipimpin langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti bersama Bunda PAUD kota Samarinda Rinda Wahyuni Andi Harun, kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Deasy Evriyani dan anggota Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) kota Samarinsa ke Tempat Penitipan Anak (TPA) Kebun Kita dan Matavhati Islamic Day Care, Kamis (20/8/2026).
Kunjungan itu menjadi kesempatan bagi Sekda untuk melihat langsung proses pengasuhan anak, mulai dari aktivitas harian, pembiasaan disiplin, edukasi, hingga pemantauan tumbuh kembang.
Saat berada di TPA Kebun Kita, Neneng mengapresiasi lingkungan yang menurutnya kondusif bagi anak-anak. Ia melihat anak-anak tidak hanya dititipkan ketika orang tua bekerja, tetapi juga mendapatkan edukasi dan pembiasaan agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
“Tidak sekadar dititipkan, tapi ada edukasi. Ada semacam pelatihan agar anak-anak itu mandiri,” kata Neneng.
Menurutnya, usia dini merupakan masa penting untuk membangun pondasi karakter. Apa yang diberikan kepada anak hari ini akan menjadi bekal ketika mereka memasuki jenjang pendidikan berikutnya hingga tumbuh dewasa.
Ia mengibaratkan anak usia dini seperti kertas putih yang masih sangat mudah dibentuk.
“Kita bagaimana melukisnya, itulah nanti yang kita peroleh di masa depan,” ujarnya.
Neneng bahkan meyakini dampak dari proses pendidikan dan pengasuhan pada masa usia dini baru akan benar-benar terasa dalam rentang 15 hingga 20 tahun mendatang.
“Mungkin tidak sekarang kita lihat apa dampaknya, tapi saya yakin 15–20 tahun ke depan itu sudah mulai akan terasa,” tuturnya.
Owner TPA Kebun Kita, Eryka Oktaviani, M.Pd., mengatakan pihaknya berupaya memastikan perkembangan setiap anak dapat dipantau dan diketahui orang tua secara lengkap.
Menurut Eryka, orang tua tidak hanya mendapatkan laporan perkembangan dalam bentuk catatan, tetapi juga dokumentasi visual berupa video. Setiap anak memiliki dokumentasi visual masing-masing yang merekam aktivitas dan perkembangan mereka selama berada di TPA.

“Orang tua dilaporkan lengkap, termasuk pertumbuhannya. Kami laporkan melalui visual video lengkap. Tiap anak punya visual video masing-masing,” jelas Eryka.
Laporan perkembangan tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi yang disampaikan kepada orang tua secara berkala, termasuk ketika pembagian rapor.
TPA Kebun Kita sendiri telah berdiri sejak 2014. Eryka menjelaskan, keberadaan tempat penitipan tersebut berawal dari banyaknya permintaan dan kebutuhan pengasuhan anak dari keluarga maupun masyarakat di lingkungan sekitar.
Dalam pelayanannya, Kebun Kita tidak hanya berfokus pada pengawasan anak selama berada di tempat penitipan, tetapi juga memberikan stimulasi yang disesuaikan dengan usia masing-masing anak.
Pemantauan pertumbuhan dilakukan secara rutin setiap bulan melalui pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Pelaksanaannya dilakukan dengan melibatkan Posyandu Kedondong dan Puskesmas Juanda.
Sementara stimulasi perkembangan mencakup sejumlah aspek, mulai dari agama dan moral, fisik motorik, bahasa, kognitif, sosial emosional hingga seni.
“Kami memberikan pelayanan dalam semua aspek tumbuh kembangnya,” kata Eryka.
Untuk mendukung aktivitas anak, TPA Kebun Kita juga memiliki fasilitas kolam renang sendiri yang digunakan sebagai bagian dari aktivitas anak.
Bagi Eryka, seluruh layanan tersebut berangkat dari satu prinsip yang menjadi slogan Kebun Kita, yakni “Setiap Anak Berharga”. Maknanya, setiap anak berhak untuk tumbuh, bahagia dan didengar.
Saat melanjutkan kunjungan ke TPA Matavhati Islamic Day Care, Neneng kembali menyoroti pentingnya pembentukan karakter sejak anak berada pada usia prasekolah.
Ia melihat rutinitas yang diterapkan, mulai dari waktu datang, makan, tidur, bermain hingga pulang, menjadi bagian dari pembelajaran disiplin.
Menariknya, pendidikan disiplin tersebut tidak hanya berlaku bagi anak. Orang tua juga ikut terlibat karena harus memastikan anak datang tepat waktu dan mengikuti pola kegiatan yang telah ditetapkan.
“Pendidikan disiplinnya peran orang tua juga ada. Membangunkan anaknya sebelum jam 7 untuk pergi ke sini, jadi ada kolaborasi dari tim di sini dengan orang tua,” jelasnya.
Menurut Neneng, tempat penitipan anak bukan sekadar ruang untuk menjaga anak selama orang tua bekerja. Lebih dari itu, terdapat proses membangun kebiasaan, kemandirian dan karakter.
Ia bahkan mengaitkan pembentukan karakter sejak usia prasekolah dengan upaya menyiapkan sumber daya manusia berkualitas di masa depan.

Salah satunya, Neneng mencontohkan proses pencarian bibit unggul untuk menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Menurutnya, kedisiplinan, kemandirian dan karakter tidak dapat dibentuk secara instan ketika anak sudah beranjak dewasa.
“Kesulitan mencari bibit-bibit unggul kalau tidak kita berikan pondasi dari awal,” katanya.
Founder TPA Matavhati Islamic Day Care, Yulia Wahyu Ningrum, M.Psi., Psikolog, menjelaskan pihaknya berupaya memastikan proses pengasuhan tidak berhenti pada aktivitas menjaga anak.
Pendampingan psikologis menjadi salah satu bagian layanan untuk memantau perkembangan anak sekaligus melihat kebutuhan masing-masing anak.
Yulia mengatakan setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pemantauan dilakukan sejak dini agar apabila ditemukan kebutuhan tertentu, anak dapat segera mendapatkan pendampingan yang sesuai.
Selain perkembangan psikologis, aspek keamanan juga menjadi perhatian. Matavhati menerapkan prosedur pengantaran dan penjemputan, CCTV yang dapat diakses orang tua, serta pengawasan terhadap aktivitas anak selama berada di tempat penitipan.
Orang tua juga diberikan ruang untuk tetap terhubung dengan anak melalui komunikasi pada waktu tertentu. Menurut Yulia, hal tersebut penting untuk menjaga kedekatan antara anak dan orang tua meskipun selama siang hari anak berada dalam pengasuhan.
Sementara itu, Bunda PAUD Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun, menilai keberadaan tempat penitipan anak yang aman dan berkualitas menjadi bagian penting dalam mendukung keluarga.
Menurut Rinda, anak tidak hanya membutuhkan tempat yang aman ketika orang tua menjalankan aktivitas. Mereka juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, stimulasi dan pembiasaan yang tepat agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Anak-anak kita membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman dan penuh kasih sayang. Karena pendidikan karakter itu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus,” ujar Rinda.
Ia menilai keberhasilan pengasuhan anak membutuhkan kolaborasi antara tempat penitipan anak dan keluarga. Apa yang dibiasakan selama anak berada di tempat penitipan perlu dilanjutkan oleh orang tua di rumah.
Dalam konteks tersebut, Rinda menyebut penguatan layanan pengasuhan anak juga sejalan dengan upaya Pemkot Samarinda mendukung program Tamasya.
Program tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem pengasuhan anak di Kota Samarinda, sehingga orang tua dapat menjalankan aktivitas dengan lebih tenang, sementara anak tetap mendapatkan pengasuhan yang aman, nyaman dan mendukung tumbuh kembangnya.
Bagi Neneng, perhatian terhadap anak usia dini pada akhirnya merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Samarinda.
“Anak-anak ini memang harus kita jaga, kemudian kita beri bekal agar nanti menjadi anak-anak yang mandiri dan berpotensi menjadi pimpinan-pimpinan masa depan,” pungkasnya.(DON/KMF-SMR || FOTO: MUHAJIR DOKPIM)
Ikuti Instagram Pemerintah Kota Samarinda
Ikuti Facebook Pemerintah Kota Samarinda